Sunday, July 8, 2012

Takdir, bukan kebetulan!

Assalamualaikum

Dulu saya aktif berblog. Mungkin ada yang pernah mengunjungi blog saya. Namun entah mana silapnya, blog saya kini penuh debu.

Saya diberi kesempatan Allah untuk menulis dengan banyak ketika itu. Kali ini, saya ingin kongsikan satu post yang pernah saya tulis satu ketika dulu. Tentang takdir.

Post asal pada 8 April 2008 boleh dibaca di: Takdir bukan kebetulan




-----------------------------------------------


Takdir bukan kebetulan

"Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?...” (Ahzab: 17)


"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu*". (Ad-Dzariyat:22)

* Yang dimaksud dengan apa yang dijanjikan kepadamu ialah takdir Allah terhadap tiap-tiap manusia yang telah ditulis di Lauhul mahfudz.


"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An’aam:59)


“… Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh) “ (Surah Hud: 6)


Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.“(Al-Hadid: 22)

**********************************************************************

Assalammualaikum wbt

Takdir.....

Apa jua yang berlaku adalah takdir dan telah tertulis di Lauh Mahfudz. Tiada kebetulan dalam hidup. Tiada yang bernama kebetulan.

Saat saya memilih baju kurung berwarna biru tua untuk dipakai hari ini, itu adalah atas hidayah Allah. Telah ditakdirkan.

Saat saya menghabiskan bacaan sesuatu buku, telah Allah takdirkan bahawa buku itu akan habis saya baca

Saat saya yang sepatutnya berehat di atas katil rumah, berjalan berjam-jam di Pesta Buku Antarabangsa semalam dan berpeluang pula menghibur diri dengan berada disekeliling buku. Itu telah ditakdirkan.

Saat saya menaip untuk entri ini, telah tertulis bahwa saya akan menulis entri ini.

Saat saya bertemu dengan seorang senior yang telah hampir 9 tahun tidak bertemu di Pesta Buku Antarabangsa,dia juga kehilangan telah ditakdirkan hilang handphone nya pada malam yang sama!

Semuanya telah ditakdirkan. Semuanya tertulis.Semuanya ada. Semuanya adalah atas kuasaNya.Semuanya atas seizinNya

La Khaula Wa La Quwwata Illa Billah

(Tiada daya dan tiada kekekuatan melainkan dengan izinNya)

Dan

Telah ditakdirkan saat membuka radio iKim tika memandu, terus ayat 2 dan 3 dari surah At-Thalaq saya dengarkan.

Telah ditakdirkan, selepas itu, doa tentang ‘ketika ditimpa musibah’ yang dikupaskan di radio.

Indah
sangat indah takdir itu.

Dan keindahannya tidak hanya itu.Saat saya membelek-belek majalah i keluaran April disisi katil, ke ruangan Teladan Hidup kelolaan Ust Hasrizal, satu keindahan yang terindah yang juga ditakdirkan Allah berlaku.

Saya bicara tentang ujian. Saya bicara tentang iman. Kerana itu yang berlegar dalam fikiran saya kebelakangan ini. Dan petang itu, ditakdirkan, seolah-olah semua rasa, fikiran dan emosi saya telah ‘DIRUMUSKAN’ dalam artikel tulisan Abu Saif ini. Saya kongsikan hanya petikan dari artikel itu, selebihnya kalian boleh baca dalam Majalah i.

*************************************************************************

“Dimana saya nak cari kekuatan, kecuali dari Yang Maha Kuat. Ustaz nampak saya kuat, tetapi yang kuat adalah Dia.Saya meminjam kekuatan dengan bergantung kepada-Nya,” kata ayah seorang pesakit kepada saya.

Saya mengangguk.

Tak ada sesiapa dikalangan kita yang mampu mengimaniNya.Kita yang lemah dan serba tiada ini, mahu mendakwa telah berpegang dengan kebesaran Dia? Mustahil...,” sambungnya lagi.

“Itulah sebabnya Allah memanggil didalam al-Quran, wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu kepada Allah (Al-nisaa’:136),” saya menambah.

Ya...Allah suruh orang-orang yang rasa dirinya beriman untuk lihat balik, kamu beriman dengan apa…dengan siapa?,” sambung beliau.

Kami sama-sama terdiam. Allah jua yang tahu perasaan saya semasa merenung wajah anaknya yang sedang bertarung dengan ujian Allah itu. Terasa mengalir kuatnya yakin si ayah untuk mentafsirkan kesakitan anaknya sebagai suatu kebaikan.

“Apa guna kita esakan Dia? Kalau bukan untuk hancurkan kita.Hancurkan diri....,” beliau seperti bercakap degan dirinya sendiri.

“Hancurkan ego, hancurkan rasa memiliki,” saya cuba mengemaskinikan ayatnya.

Ya ustaz.Selagi ada dalam jiwa ini rasa memiliki, selagi itulah kita mengeluh dengan kehilangan dan kekurangan.Lupa pada apa yang diberikanNya.Walhal nanti kita DITEMPELAK DENGAN NIKMAT YANG DIBERI, BUKAN NIKMAT YANG PERGI,” katanya.

Air mata sudah hendak ditahan. Terasa tepu dada saya menelan kata-kata yang datang dari keyakinan si bapa. Bukan ucapan pengetahuan, tetapi keyakinan. Pecah juga genang air dimata saya tetapi cuba saya sembunyikan dari pandangan si anak yang terlantar. Dia harus terus kuat untuk bertahan dan kami di sekelilingnya mesti menyokong dia agar terus kuat.

“Tak salah ustaz.Saya tak marah isteri saya menangis. Tetapi pesan saya kepadanya supaya jangan hanya menangis.MENANGISLAH SAMPAI MEYAKINI DIA.Sebagaimana ketawa jangan sampaikan lupakan Dia.Jika dengan ujian seperti ini MASIH TAK MAMPU YAKIN PADA-NYA, ITULAH YANG PATUT DITANGISI,”amat dalam kata-kata si ayah.

Saya seperti mahu tersepuk ditepi katil. Sayalah yang ‘bodoh’ dan jahil dihadapan situasi ini. Mengangguk lemah…

*****************************************************************************

Cukup rasanya tergambar apa saya maksudkan dengan RUMUSAN di atas tadi, bila artikel ini habis dibaca.

Saya juga jujurnya hilang kata saat membaca artikel ini.

“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan????????”
Astagfirullah…
Astagfirullah..
Astagfirullahal azim


Takdir 

Dihempas gelombang dilemparkan angin
Terkisah bersedih bahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencanaNya

Semua berjalan dalam kehendakNya
Nafas hidup cinta dan segalaNya

Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMuya robbi

Bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa coba bersabarlah 
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti 

Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkan hati merindukan Dia
Karena hanya denganNya hati tenang
Damai jiwa dan raga


Album : Semesta Bertasbih
Munsyid : Opick Feat Melly Goeslaw


Wallahu’alam
Wassalaam

Wardah as-Syauk
1 Rabi’ul Akhir 1429H
8 April 2008


************************************************************************

Nota kaki: Entri tentang TAKDIR ini ditulis sekadar ASAS.Asas semata-mata. Saya tidak berniat utk membuka ruang pada kupasan yang lebih mendalam. Sebenarnya banyak yg perlu dibincang kerana soal takdir bukan setakat terhenti disini kupasannya.

Sila rujuk lebih lanjut tentang Qadha dan Qadar, berdoa dan tawakkal, dan dapatkan ulasan lebih lanjut tentang takdir dari yang lebih alim.

Astagfirullah

In sya allah, moga ada berkah dan khair dalam setiap amal

0 comments:

Post a Comment

salwasaleh.com